December 21, 2008 at 1:56 pm (Kumpulan Karya Without A Name)

Bagaimana cinta dapat tumbuh

Bila tiada tempat untuk tumbuh

Tetapi cinta tak akan mati

Walau pun tak ada cinta yang kau miliki…

Aku tak kan membiarkan cintamu mati

Aku akan memberikan rasa cinta, sayangku

Walaupun kau membenciku

Akan s’lalu ku beri untukmu

Untuk apa bertemu

Bila untuk berpisah

Untuk apa berpisah

Bila dapat bersatu

Tetapi cinta tak dapat memaksa

Kau bebas mencari cinta sejatimu

Terbang-terbanglah

Bila mulai lelah kembalilah kepadaku…

Permalink Leave a Comment

Guru, Pahlawanku

December 21, 2008 at 1:54 pm (Kumpulan Karya Without A Name)

Ku tatap seraut wajah di balik senyum

Seuntai kata menghiasi tuturnya yang lembut

Penuh kasih dalam setiap ajarannya

Kewibawaan mencerminkan kepribadiannya yang hangat

Di kala sedih masih tersimpan ulasan senyum itu

Tersaput nada pelangi dalam pelupuk matanya

Kegembiraan anak didiknya menjadikn pelipur lara dalam hatinya

Tahukan engkau wahai kawan apa yang telh ia korbankan demi kita

July,28 08

Permalink Leave a Comment

Ayah

December 21, 2008 at 1:53 pm (Kumpulan Karya Without A Name)


Ku ingin melihat tawamu…

Ku ingin melihat ceriamu…

Ku ingin berpetualang denganmu…

Ku ingin kau memelukku…

Mendekapku…

Merangkulku…

Melindungiku…

Ku ingin arungi lautan bersamamu…

Ku ingin membelah samudra bersamamu…

Ku ingin berpetualang, mangelilingi dunia denganmu…

Ayah,

Ini aku, temukan anku…

Jangan tinggalkan aku…

Aku percaya tanganmu yang kuat akan menuntunku…

Ayah kau harus tahu…

Betapa sesungguhnya aku mencintaimu…

AYAH…!!!

Permalink Leave a Comment

December 21, 2008 at 1:52 pm (Kumpulan Karya Without A Name)

Senja runtuh mengurung Nurani

Jiwa menghujam galau sarat senyuman menyesatkan keheningan

Berjalan mendaki antara setia dan Nista

Aku buta, antara maya satu terangkai

Aku tertuntun terbuai antara cinta sempurna dan dusta

Dia yang tercinta rangkai kata mesra dibalik kabut hampa beriak

Dia yang tercinta buai bius nestapa sambut kerangka jiwa

Dia yang tercinta hadirkan secercah cahaya cinta dibalik tusukan

lembut mematikan jiwa

Disini cinta suci masih terjaga meski kabut telah gelapkan jiwa

Permalink Leave a Comment

December 21, 2008 at 1:48 pm (Kumpulan Karya Without A Name)

Aku Bodoh…

Aku Goblok…

Aku Pelo…

Aku Bego…

Kenapa…???

Hidupku Seperti ini???

Tuhan,

Ampuni hamba-Mu ini…

Aku tak tau Malu…

Permalink Leave a Comment

Kepada Sang Dewasa

December 21, 2008 at 1:46 pm (Kumpulan Karya Icha)


Wahai sang dewasa

Helai rambutmu mencerminkan kematangan

Pemikiran dan kearifanmu selaksana pagi

Yang mewakili kesejukan

Dalam tatapan bola matamu terbayang

Ketegasan dan kebijaksanaan lakumu

Terlampaui awan yang menutup matahari

Setiap ucap dan katamu terlontar nasihat

Santun kesucian akan ketenangn dan kedamaian kehidupan

Derap langkah kakimu menjuntai

Kedermawanan jiwamu yang berjalan

Beralaskan pelangi mewangi

Dibawah kewibawaan tingkah lakumu

Wahai sang dewasa

Dirimu adalah tauladan

Faricha Lusita D.

XI Bahasa

Permalink Leave a Comment

Aku Benci

December 21, 2008 at 1:42 pm (Kumpulan Karya Icha)


Aku benci kala fajar merangkak menerpa sinar

Mencaci pagi memulai dosa tusukan

tangan manusia

Aku benci kala matahari memancung sengangar

merajut tengadah meminta jiwa membisik

nyanyian murung menyakitkan

Aku benci kala matahari condong menerpa senja

menjaring getir tangisan naas melampaui

suara klakson mobil mentereng dan peluit-peluit polisi lalu lintas

aku benci kala gelap menguasai lelap

dengan harapan sederhana mencapai sebutir nasi

mengisi jiwa

Aku Benci…

Seluruh kala menguasai dingin menusuk jiwa

Aku Benci…

Seluruh kala membusung harapan dan pinta sia-sia

Faricha Lusita D.

XI Bahasa

Permalink Leave a Comment

Aku Gelap Diantara Siang

December 21, 2008 at 1:41 pm (Puisi)


Aku Gelap Diantara Siang

Aku sepi diantara keriuhan

Dimana aku?

Kemana pergiku?

Sandaranku telah lapuk

Pelindungku telah mati

Untuk apa aku?

Tiada kah guna aku?

Sedari terdiam caci maki

Menunduk sarat kepicikan menjelma

Siapa aku?

Inikah aku?

Aku sakit tiadakah yang peduli?

Aku meronta, mengemis

Tiadakah yang iba

Faricha Lusita Dewi

XI Bahasa

Permalink Leave a Comment

Bahasa Ku

December 21, 2008 at 1:29 pm (Puisi)


Aku terdiam disudut maya

Dikala senja tak menampakkan cahayanya

Dikala mentari tak sanggup tuk menyinari dunia

Dikala hati tak mampu tuk membaca

Bahasa…

Datang merasuk kedalam jiwa

Hadir menyatu kedalam raga

Membaur kedalam asa dan cita

Bahasa…

Adalah bukti nyata

Bahasa…

Adalah nyawa kita

Bahasa…

adalah wujud budaya

dan bahasa…

adalah kekayaan Negara

satukan raga

kuatkan rasa

hadirkan suasana

bulan penuh bahasa

Latifa Hanum P.

XI Bahasa.

Permalink Leave a Comment

Kupu-kupu yang Lumpuh

December 21, 2008 at 1:25 pm (Puisi)


Ketika aku masih menjadi kepompong

Terbayang senangnya bila aku bisa terbang

Ketika aku harus berjuang melewti sebuah lubang

Sangat berat memang, aku mencba berjuang, dan…

Sebagian kecil tubuhku bisa melewati lubang

Oh… rasanya lelah sekali, danaku berhenti sejenak

Saat itu, tampak seorang manusia mengamatiku

Tampaknya ia kasihan padaku, lubangku dikuatkan

Pikirnya, membuatku lebih gampang

Ah… memang lebih gampang, tak perlu berjuang

Dan keluarlah aku ke dunia lapang

Tetapi, mengapa aku tidak bisa terbang?…

Ternyata, cairan tubuhku yang Tuhan siapkan untuk sayapku

Bisa berfungsi kalau lubang kecil itu aku lewati

Dan pertlongan itulah yang melumpuhkanku

Aku hanya bisaa merangkak,

Merangkak sebagai kupu-kupu yang lumpuh

Sepanjang masa…

S-sha

Permalink Leave a Comment

Next page »